Penyebab Disfungsi Seksual

Diposting pada

Disfungsi seksual adalah masalah yang menghalangi seseorang memiliki hasrat seksual atau mendapat kepuasan dalam kegiatan seksual. Kondisi ini dapat menimpa wanita maupun pria, dan risikonya semakin tinggi seiring pertambahan usia.

Penyebab Disfungsi Seksual
http://obatejakulasidinipalingampuh.com

Disfungsi seksual pada wanita meliputi masalah dalam respon seksual, orgasme dan rasa nyeri saat berhubungan seksual. Sedangkan masalah seksual pada pria menyangkut disfungsi ereksi atau impotensi, gangguan ejakulasi, dan kehilangan gairah seksual. Disfungsi seksual sendiri bukanlah suatu hal yang jarang terjadi, di mana 43 persen wanita dan 31 persen pria setidaknya pernah merasakan gangguan atau kesulitan dalam aktivitas seksual mereka.

Penyebab Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

  1. Kondisi fisik atau medis yang mengganggu fungsi seksual. Kondisi tersebut termasuk penyakit diabetes, jantung dan vaskuler, gangguan saraf, penyakit kronis, penyalahgunaan obat, dan efek samping dari obat-obatan tertentu (salah satunya adalah antidepresan yang dapat mengganggu hasrat dan fungsi seksual).
  2. Kondisi hormonal, seperti penurunan kadar hormon estrogen pada wanita, terutama setelah menopause dan hormon testosteron yang rendah pada pria sehingga mengurangi hasrat melakukan kegiatan seksual.
  3. Faktor psikologi, terutama stres, dapat menyebabkan disfungsi seksual. Selain itu, kecemasan, kekhawatiran berlebihan akan performa seksualnya, masalah dalam hubungan atau pernikahan, depresi, perasaan bersalah, serta efek trauma masa lalu juga dapat berpengaruh.

Diagnosis Disfungsi Seksual

Dimulai dengan menanyakan gejala secara menyeluruh dan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan perubahan fisik yang dapat mempengaruhi kepuasan seksual, seperti elastisitas kulit dan jaringan pada alat kelamin. Untuk menguatkan diagnosis disfungsi seksual, dokter mungkin akan melakukan beberapa tes berikut ini, di antaranya:

  1. Tes darah untuk memeriksa kadar hormon dan faktor risiko lain, seperti diabetes dan kolesterol.
  2. Tes untuk memonitor ereksi saat tidur di malam hari. Tes ini akan menentukan apakah gangguan ereksi yang dialami akibat faktor fisik atau psikologis.
  3. Tes vaskuler pada pria untuk memeriksa aliran darah ke penis.
  4. Tes pengujian sensori untuk memeriksa kekuatan impuls saraf pada bagian tubuh tertentu.
  5. Dokter juga dapat merujuk pasien ke dokter lain, seperti dokter spesialis urologi, endokrinologi, neurologi, terapis seksual dan terapis lain guna mendapatkan diagnosis dan pilihan pengobatan yang paling tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *